Tujuan dari pendakian ini adalah tiga gunung tertinggi dunia yang terletak di garis katulistiwa, yang menjadi simbol dari ancaman nyata terhadap berkurangnya sumber air tawar dunia :

• Puncak Carstenz , Papua – 4,884 m (16,024 ft)

• Puncak Kilimanjaro, Tanzania – 5,895 m (19,341 ft)

• Puncak Chimborazo, Ekuador – 6.310 m(20.703 ft)

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh Tim Jarvis, dalam proyeknya yang bernama 25zero, padang salju di enam negara yang terletak di garis khatulistiwa yaitu: Ekuador, Kolombia, Tanzania, Uganda, Kenya, dan Indonesia terancam hilang. Semua negara ini memiliki gunung dengan salju di puncaknya (gletser), tetapi sebagian besar gletser itu akan hilang dalam 25 tahun. Ini artinya masyarakat lokal akan kehilangan sumber air tawar yang telah menopang kehidupan mereka selama ini.

profil pendaki

Nama saya Laksmi, saya bekerja di sebuah perusahaan Multinational. Saya suka mendaki gunung. Saya memulai mendaki gunung sejak usia 40 tahun dan di usia saya yang ke-50 tahun ini, saya sudah mendaki 20 gunung. Ketika mendaki gunung, saya baru menyadari betapa pentingnya air. Selama pendakian, kita harus membawa cukup persediaan air dan menggunakannya dengan bijak untuk memasak, minum dan keperluan lainnya. Setiap hari, kita selalu mendapatkan akses ke air bersih dengan mudah, sehingga seringkali kurang menghargai betapa berharganya air setiap tetesnya.

Ketika kecil, saya sering berlibur di desa di Malang Selatan. Waktu itu di tahun 1970-an di gunung kapur yang kaya hutan jati itu, air tidak tersedia di setiap rumah. Jadi ketika menginap di rumah eyang buyut, kami harus mencari air ke mata air untuk dikumpulkan di bak tampung di rumah Saya, kakak dan kakak sepupu saya harus berjalan 2 km ke mata air terdekat dan mengangkut pulang air bersih.

Ironisnya, kini, 50 tahun kemudian, saya mendengar bahwa saudara-saudara kita di beberapa daerah di Indonesia Timur masih mengalami masalah yang sama. Mereka, terutama anak-anak dan ibu-ibu, secara kultur, bertugas mencari air untuk keperluan rumah tangga. Dan tugas ini telah membuat anak perempuan terekspos kepada pelecehan dan kehilangan waktu yang dapat mereka gunakan untuk belajar. Saya ingin memberikan solusi yang nyata untuk menjawab isu ini

Selain itu saya juga ingin mengkampanyekan pentingnya air melalui kegiatan pendakian gunung ke 3 puncak tertinggi dunia di garis khatulistiwa yang menjadi simbol nyata ancaman ketersediaan air sekaligus menginspirasi banyak anak perempuan untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpinya seperti saya.

Saya Mahendratta Sambodho, akrab dipanggil Dodot. Hobi naik gunung sudah saya lakoni sejak SMA. Hampir semua gunung di nusantara pernah saya jelajahi. Hobi ini terus saya tekuni sampai memasuki masa kuliah, dimana saya bergabung dengan MAPALA-UI dan mendalami olahraga panjat tebing.

Sempat berkarir di industri kreatif sebagai camera person, asisten sutradara, dan menjadi sutradara dipuncak karir saya.. Sudah banyak film/video, salah satu video dokumenter dengan tema-tema humanis yang sudah saya produksi bersama tim saya.

Ide untuk melakukan “Pendakian untuk Kesetaraan” telah menggugah hati saya, yang memang sejak lama sudah sangat peduli tentang isu kesetaraan gender. Ketika masih aktif di MAPALA, saya menginisiasi program panjat tebing untuk perempuan. Dunia pendakian dan panjat tebing masih sangat didominasi oleh kaum pria, meskipun saya yakin bahwa perempuan juga sebetulnya bisa jika diberikan akses dan kesempatan untuk berlatih yang sama.

Besar harapan saya, misi ini bisa membuka lebih besar lagi akses kesetaraan bagi banyak anak perempuan di NTT, yang selama ini terhambat dikarenakan tidak adanya akses air bersih disana. Adalah tanggung jawab kita bersama menjadi solusi bagi berbagai permasalahan bangsa, dan saya yakin melalui misi perjalanan kali ini salah satunya bisa saya bantu jawab.

Agi, begitu biasanya saya disapa oleh teman-teman saya. Waktu kuliah saya aktif di MAPALA UI dan saya adalah salah satu atlet panjat tebing Indonesia, namun juga memiliki hobi lari jarak jauh atau yang biasa disebut ultra marathon. Beberapa event ultra marathon sudah saya taklukan salah satunya adalah Rinjani 100K dan Ultra Trail Gede-Pangrango. Hobi saya ini juga mengantarkan saya menjadi salah satu dari dua Indonesia orang yang berhasil menyelelesaikan Ultra Trail Marathon Mont Blanc, event lari ultra marathons yang bergengsi di dunia dengan total jarak yang harus ditempuh sejauh 350km.

Kecintaan saya terhadap outdoor sport membuat saya menghargai apapun yang alam berikan, utamanya air. Sulit dibayangkan apabila kita tidak memiliki akses terhadap air bersih, bagi saya itu sama dengan menutup akses kepada berbagai aspek kehidupan seperti nutrisi yang layak, kesehatan dan pendidikan.

Karena hal itu juga, saya memutuskan untuk mengikuti misi “Pendakian untuk Kesetaraan” ini, dan mengajak berbagai pihak untuk mendukung perjalanan ini demi memberikan akses air bersih di NTT agar kesetaraan akses bagi anak perempuan terwujud.